Selasa, 29 November 2011

panduan pemberian makanan pada penderita gizi buruk


BAB I
PENDAHULUAN

a.             Latar Belakang
Gizi buruk adalah masalah kekurangan zat gizi makro (kalori dan protein) yang berlangsung secara kronis (lama) maupun cepat (akut). Kasus ini banyak terjadi di seluruh wilayah indonesia, termasuk NTB. Secara nasional diperkirakan 5,1% anak balita menderita gizi buruk. Sementara di provinsi NTB angkanya relatif lebih rendah yaitu 3,73% (tahun 2001) dan 4,15 (tahun 2002).
Gizi buruk merupakan salah satu masalah gizi yang mendapat perhatian serius. Secara langsung gizi buruk disebabkan oleh kurangnya asupan makanan dan adanya penyakit infeksi. Sementara itu, keterbatasan pangetahuan ibu tentang gizi, cara pemberian makanan yang tidak tepat, pola pengasuhan anak, kondisi kesehatan dan lingkungan serta ketersediaan pangan ditingkat rumah tangga merupakan faktor penyebab tidak langsung timbulnya gizi buruk.
Seharusnya penderita gizi buruk dirawat inap di rumah sakit dan puskesmas. Namun pada kenyataannya, jumlah kasus yang ditemukan dan dirawat di puskesmas dan rumah sakit tidak sampai 20%. Dari jumlah tersebut sebagian tidak menjalani perawatan secara tuntas dengan berbagai alasan antara lain : orang tua tidak dapat mencari nafkah bila harus menunggu di rumah sakit atau ada anak lain dirumah yang memerlukan perhatian orang tua dan lain – lain.
Perawatan gizi buruk di rumah tangga memerlukan kehati–hatian dan ketelitian. Hal ini mengingat kondisi fasilitas di rumah tangga seperti kebersihan lingkungan, keadaan air bersih, sirkulasi udara yang sangat berbeda dengan kondisi di fasilitas kesehatan.
Perawatan kasus gizi buruk dirumah tangga memerlukan persyaratan-persyaratan tertentu, bak kondisi pasien maupun kesiapan petugas. Keberhasilan perawatan di  tingkat rumah tangga memerlukan partisipasi dan kepatuhan keluarga untuk mematuhi anjuran dari petugas kesehatan. Hal ini dapat terjadi jika petugas kesehatan dapat memberikan bimbingan, bantuan dan pendampingan bagi keluarga.

b.      Tujuan
-      Untuk mengetahui kriteria balita gizi buruk.
-      Untuk mengetahui perawatan pasien gizi buruk di rumah tangga.
-      Untuk mengetahui langkah-langkah yang harus dilakukan pada penderita gizi buruk.
-      Untuk mengetahui pemantauan dan evaluasi pada pasien gizi buruk.

c.              Masalah
-           Apa yang dimaksud dengan gizi buruk?
-           Apa yang menyebabkan terjadinya gizi buruk?
-           Bagaimana cara mendiagnosa balita yang termasuk gizi buruk?
-           Bagaimana kriteria balita yang mengalami gizi buruk?
-           Bagaimana cara perawatan pasien gizi buruk di rumah tangga?
-           Apa saja langkah-langkah yang harus dilakukan pada pasien gizi buruk?


BAB II
ISI

A.       DIAGNOSIS BALITA GIZI BURUK
Untuk menentukan rencana tatalaksana gizi buruk dilakukan diagnosis melalui pemeriksaan antropometri dan klinis. Status gizi anak dapat disimpulkan berdasarkan hasil antropometri  saja, pemeriksaan klinis saja atau keduanya.
1.         Pemeriksaan antropometris
Pemeriksaan antropometri dilakukan berdasarkan indeks Berat Badan menurut Panjang Badan (BB/PB) bila anak diukur panjangnya dalam posisi tidur, atau Berat Badan menurut Tinggi Badan (BB/TB) bila diukur tingginya dalam posisi berdiri. Anak dikatakan sangat kurus bila BB/PB atau BB/TB < -3 SD

2.         Pemeriksaan klinis
Dilakukan pemeriksaan fisik dengan melihat tanda – tanda klinis, sebagai  berikut :
1.        Marasmus
·          Wajah terlihat seperti orang tua : pipi kempot, tulang pipi  dan tulang hidung terlihat lebih menonjol,mata terlihat cekung.
·          Kulit terlihat longgar seperti tinggal kulit pembungkus tulang
·          Tulang rusuk teerlihat jelas, kulit paha terlihat berkeriput
·          Tulang belakang tampak lebih menonjol dan kulit di bokong berkeriput disebut sebagai baggy pant.

2.        Kwashiorkor
·          Edema seluruh tubuh, terutama pada punggung kaki
·          Wajah membulat dan sembab
·          Pandangan mata sayu
·          Rambut tipis, kemerahan seperti warna rambut jagung, mudah dicabut tanpa rasa sakit, rontok.
·          Anak apatis dan rewel
·          Otot mengecil, lebih nyata bila diperiksa pada posisi berdiri atau duduk
·          Kelainan kulit berupa bercak merah muda yang meluas dan berubah warna menjadi coklat kehitaman(Dermatosis).

3.        Marasmik-kwashiorkor
Cara memeriksa edema :pemeriksaan dilakukan dengan cra menekan punggung kai menggunakan jari telunjuk selamabeberapa detik, dan akan terlihat cekungan ketika jari diangkat.cekungan ini akan bertahan selama beberapa detik dan lakukan pemeriksaan ini kepada kedu kaki.
Tanda-tanda klinis yang menyertai:
a.    Xeropthalmia adalah kelainan mata yang disebabkan karena kekrangan vitamin A yang berat
b.    Anemia disebabkan karea kekurangan zat besi, asam folat, viatmin B12 yng ditandai dengan pucatnya konjungtiva, selaput lendir pada mulut, muka, dan telapak tangan
c.    Stomatitis disebabkan karena kekurangan vitamin B yang ditandai dengan adanya kelainan pada udut mulut
d.    Dermatosis adalahkelainan pada kulit dimana kulit terlihat melepuh sebagaimana kulit yang terkena luka bakar

 B.       KRITERIA BALITA GIZI BURUK YANG DIRAWAT DI RUMAH TANGGA
Balita gizi buruk yang boleh dirawat dirumah tangga sebaiknya memenuhi kriteria sbb:
1.         Sudah melewati fase Stabilisasi (masa kritis).
2.         Tidak menerita komplikasi atau tnda-tanda gawatdarurat medis yang mengancam jiwanya, misalnya campak, diare, peneumonia, kejang, dan kesadaran menurun (letargis)
3.         Ada tim penanggulangan tim  gizi buruk ditingkat puskesmas dan petugas yang bisa melakukan kunjungan rumah secara terjadwal
4.         Fasilitas dirumah tangga memungkinkan

C.       PERAWATAN GIZI BURUK  DI RUMAH TANGGA
Pengobatan awal dirumah tangga pada dasarnya merupakan pelaksanaan fase stabilisasi dan transisi. Fase ini merupakan tindak lanjut perawatan di rumah sakit pada kasus-kasus pulang paksa. Bila kasus ditemukan di rumah, (penderita tidak dirawat), maka penatalaksanaan dimulai dari pengobatan awal.

Fase pengobatan awal
Pada fase ini yang harus dilakukan, yaitu:
-       Mengobati atau mencegah Hipoglikemi dan Hipotermi
a.    Hipoglikemi
Anak gizi buruk mempunyai resiko menderita hipoglikemia atau kadar gula darah yang rendah (< 54 mg/dl) yang sering menyebabkan kematian. Hipoglikemia dapat disebabkan oleh karena infeksi sistemik atau penderita kurang/terlambat makan, terutama pada malam hari.
Hipoglikemi ditandai dengan suhu tubuh yang rendah, kesadaran menurun, lemah, kejang, keluar keringat dingin dan pucat. Keluarnya keringat dingin dan pucat hanya terjadi ketika keadaan hipoglikemi sudah berat atau ketika penderita hampir meninggal. Bila anak diduga menderita hipoglikemi dan anak bisa minum, berikan teh manis hangat atau air gula sampai kondisi anak membaik.

Untuk mencegahnya, penderita harus mendapat makanan dua jam sekali, karena pada masa itu kemungkinan terjadi hipoglikemi dan hipotermi masih tinggi. Selanjutnya maknan diberikan makin arang dan makin padat bentuknya (konsistensi) dan kandungan gizinya (konsentrasinya).
1.    Hipotermi
Dikatakan hipotermi jika suhu tubuh anak kurang dari 36,5C pada pengukuran suhu axiler. Dalam peeriksaan suhu tubuh dengan termometer yang diletakkan diketiak diperlukan waktu selama 3 menit. Hipotermi plaing sering terjadi pada dini hari yang suhu lingkungannya lebih dingin dibandingkan dengan waktu lain. Hipotermi ini dapat terjadi karena:
-      Paparan angin. Tubuh tidak terbungkus dengan pakaian atau selimut yang baik.
-      Menempel benda yang dingin. Tidur di lantai, popok yang basah tidak segera diganti.
-      Tidak diberi makan pada malam hari.
-      Infeksi yang tidak diobati pada malam hari.
Untuk mencegah hipotermi dan hipoglikemi, hendaknya dilakukan:
-      Ruangan harus hangat, hindari angin.
-      Anak diberi penutup.
-      Tubuh tidak terkena benda yang dingin.

-       Mengobati atau mencegah dehidrasi dan memperbaiki gangguan keseimbangan elektrolit.
Dehidrasi disebabkan karena kehilangan cairan tubuh da dapat disebabkan oleh diare yang berat. Tanda-tanda dehidrasi, antara lain: kehausan, kencing kurang, air mata kurang, selaput lendir mulut dan lidah keringm apatis, lesu, turgor berkurang. Apabila dehidrasi berlanjut, maka akan terjadi syok, dengan tanda-tanda lemas, apatis, nadi tidak teraba atau teraba lemah, ujung jari tangan dan kaki dingin dan kebiruan, kencing sedikit dan hipoglikemi. Untuk mengatasinya, WHO menganjurkan pemberian larutan Resomal.

-       Mengobati infeksi.
Pada penderita gizi buruk, gejala infeksinya sering tidak menimbulkan demam, tetapi justru menimbulkan penurunan suhu tubuh. Petugas kesehatan maupun keluarga tidak menyadari sehingga penderits meninggal. Sehingga apabila obat telah tersedia, berikan obat sesuai dengan etiket.
Penyebab infeksi, antara lain: bakteri, virus, dan parasit yang akan menyebabkan metabolisme tubuh lebih tinggi, nafsu makan menurun, diare, muntah, dan daya tahan tubuh menurun.

-       Pemberian diet

D.      LANGKAH-LANGKAH YANG HARUS DILAKUKAN PADA ANAK GIZI BURUK

1.         FASE STRABILISASI
Jenis-jenis makana yang apat diberikan selama anak mengalami gizi buruk strabilisai diantaranya
a.    Formula khusus seperti formula 75/modifikasi/modisco Description: C:\DOCUME~1\DIGIT\LOCALS~1\Temp\msohtmlclip1\01\clip_image002.png 
b.    Jumlah zat gizi :
Energi       : 100 Kkal/Kg BB/hari
Protein      : 1 – 1,5 gr/Kg BB/hari
Cairan       : 130 ml/Kg BB/hari atau jika ada edema berat 100 ml/Kg
Dengan syarat pemberian diitnya adalah porsi kecil, sering, rendah ssrat dan rendah laktosa.

Tabel jenis frekuensi dan lamanya/waktu pemberian makan anak gii buruk pada fase strabilisasi.
FASE
JENIS MAKANAN
FREKUENSI
WAKTU PEMBERIAN
Strabilisasi
1.      BB < 7kg






2.      BB > 7kg

Makanan Bayi :
-  Asi
-  Susu Bayi/susu rendah laktosa
-  Formula 75/modifikasi/modisco l/2

Makanan Anak :
-  Susu/susu rendah laktosa
-  Formula 75/modifiasi /modisco 1/2
-          





-         1 sdm/2jam
-         2 sdm/3jam
-         3 sdm/4jam


-         1 sdm/2jam
-         2 sdm/3jam
-         3 sdm/4jam





Hari 1-2(2 hr)
Hari 2-3 (2 hr)
Hari 4-7 (4 hr)


Hari 1-2(2 hr)
Hari 2-3 (2 hr)
Hari 4-7 (4 hr)



2.         FASE TRANSISI
Pada fase transisi anak gizi buruk pemberian makanannya harus secara bertahap dan perlahan-lahan jumlahnya ditingkatkan karena untuk menghindari terjadinya gagal jantung, yang dapat terjadi bila anak mengkonsumsi makanan alam jumlah banyak secara mendadak. Adapun persyaratan diet debagai berikut :
a.    Formula khusus seperti formula 100/ modifkasi/modisco I/II
b.    Jumlah zat gizi
Energi       : 150 – 200 Kkal/Kg BB/hari
Protein      : 2 – 3 gr/Kg BB/hari
Cairan       : 150 ml/Kg BB/hari
 
Tabel jenis frekuensi dan lamanya/waktu pemberian makan anak gizi buruk pada fase transisi :
FASE
JENIS MAKANAN
FREKUENSI
WAKTU PEMBERIAN
Strabilisasi
1.      BB < 7kg






2.      BB > 7kg

Makanan Bayi :
-  Asi
-  Susu Bayi/susu rendah laktosa
-  Formula 100/modifikasi/modisco I/II

Makanan Anak :
-  Susu/susu rendah laktosa
-  Formula 100/modifiasi /modisco I/II
-          





-  100 sdm/6jam
-  100 sdm/4jam
-  100 sdm/2jam


-  100 sdm/6jam
-  100 sdm/4jam
-  100 sdm/2jam





Hari 8-9
Hari 10-11
Hari 12-13


Hari 8-9
Hari 10-11
Hari 12-13



3.         FASE REHABILITASI
Bila anak masih medapatkan ASI,teruskan ASI, ditambah dengan makanan formula karena energi dan protein ASI tidak akan mencukupi untuk tubuh-kejar.
Adapun persyaratan diet sebagai berikut :
a.    Formula khusus sebagai formula 135/modifikasi/modosco III
b.    Jumlah zat gizi :
Energi       : 150 – 200 Kkal/Kg BB/hari
Protein      : 4 – 6 gr/Kg BB/hari
Cairan       : 150 – 200 ml/Kg BB/hari

Tabel jenis frekuensi dan lamanya/waktu pemberian makan anak gizi buruk pada faese rehabilitasi:
FASE
JENIS MAKANAN
FREKUENSI
WAKTU PEMBERIAN
Strabilisasi
1.      BB < 7kg








2.      BB > 7kg

Makanan Bayi :
-  Asi
-  Susu Bayi/susu rendah laktosa
-  Formula 135/modifikasi/modisco I/II
-  Makanan lunak/makanan lembek

Makanan Anak :
-  Susu/susu rendah laktosa
-  Formula 135/modifiasi /modisco I/II
-  Makanan lunak/makanan biasa
-  Sari buah
-          

Tak terbatas
-  100 ml/8jam atau 3 x pemberian
- 3 x porsi
- 1 x porsi



Tak terbatas

-  100 ml/8jam atau 3 x pemberian
-  3 x porsi
-  1 – 2 x

Minggu 3 - 6










Seterusnya sampai -1 SD 90%

Table contoh pemberian makan pada usia 0 – 12 bulan
UMUR
MAKANAN YANG DIBERIKAN
JUMLAH PEMBERIAN
WAKTU (Jam)
0 – 4

4 – 6




6 – 8






8 – 10






10 – 12





12 -
-          ASI

-          ASI/Susu bayi/susu rendah laktosa
-          Buah
-          Bubur susu

-          ASI
-          Buah
-          Bubur susu
-          Tim saring
-          Formula/modifikasi/modisko


-          ASI
-          Buah
-          Bubur susu
-          Tim dihaluskan
-          Formula/modifikasi/modisko


-          ASI
-          Buah
-          Nasi Tim
-          Formula/modifikasi/modisko


-          ASI (bila ASI dapat diberikan PASI)
-          Buah
-          Makanan keluarga (mudah dicerna dan tidak pedas)
-          Makanan kecil (biscuit, bubur kacang ijo)
-          Formula/modifikasi/modisco
Sesuka bayi
Sesuka bayi


1 – 2 x porsi
1 – 2 x porsi

Sesuka bayi
2 x porsi
2 x porsi
1 x porsi
Sesuai fase KEP Berat/ gizi buruk

Sesuka bayi
2 x porsi
1 x porsi
2 x porsi
Sesuai fase KEP Berat/ gizi buruk

Sesuka bayi
2 x porsi
3 x porsi
Sesuai fase KEP Berat/ gizi buruk



2 x porsi
3 x porsi

1 x porsi

Sesuai fase KEP Berat/gizi buruk




10.00 & 15.00
13.00 & 18.00


10.00 & 15.00
08.00 & 13.00
18.00



10.00 & 15.00
08.00
13.00 & 18.00




10.00 & 15.00
08.00 & 13.00
18.00





10.00 & 15.00
08.00 & 13.00
18.00



E.       POLA PEMBERIAN MAKAN PADA USIA DIATAS I TAHUN
Pada usia diatas 1 tahun jenis makanan yang dapat dibrikan masih berpedoman pada makanan bayi. Makanan yang diberikan sudah mulai seperti orang tua namun bentuknya masih lunak, mengingat belum banyak tumbuh gigi dan untuk memudahkan proses pencernaan.
Table contoh pola pemberian makanan pada usia diatas 1 tahun
UMUR (Tahun)
MAKANAN YANG DIBERIKAN
JUMLAH PEMBERIAN
WAKTU (Jam)
1 – 2
-          ASI
-          Makanan lunak
-          Snack/jajanan

Formula/modifikasi/modisco
Sesuka anak
3 x sehari
2 – 3 x sehari

Sesuai fase KEP Berat/gizi buruk

Pagi, siang, malam
Pagi, siang, sore
>3
-          Makanan seperti orng dewasa
-          Snack/jajanan

Formula/modifikasi/modisco
3 x sehari

2 – 3 x sehari

Sesuai fase KEP Berat/gizi buruk
Pagi, siang, malam

Pagi, siang, sore

Table jenis/ macam formula
BAHAN
F 75

F 100

F 135


Gr
Urt
gr
Urt
gr
Urt
Susu bubuk skim
Gula pasir
Minyak sayur
Larutan elektrolit
2,5
10
3
2 cc
½ sdm
1 sdm
¼ sdm
8,5
5
6
22 cc
1 ½ sdm
½ sdm
½ sdm
9
6,5
7,5
2,7 cc
2 dsm
¾ sdm
¾ sdm

NILAI GIZI
Per 100 ml
F 75
F 100
F 135
Energy
Protein
Laktosa
Potasium
Sodium
Magnesium
Seng
Copper
% energy protein
% energy lemak
osmolality
Kalori
Gr
Gr
Mmol
Mmol
Mmol
Mg
Mg
-
-
Mosm/l
75
0,9
1,3
3,6
0,6
0,43
2
0,25
0,5
3,6
41,3
100
2,9
4,2
5,9
1,9
0,37
2,3
0,25
1,2
5,3
41,9
135
3,3
4,8
6,3
2,2
0,8
3
0,34
1
5,7
50,8

F.        CARA MEMBUAT LARUTAN FORMULA
Campurkan susu skim, gula, minyak sayur dan larutan elektrolit, diencerkan dengan air hangat sedikt demi sedikit sambil diaduk sampai homogeny dan volume menjadi 100 ml. Larutan ini bias langsung diminum.
Table larutan elektrolit / resmoal
BAHAN
300 cc

500 cc

750 cc


Gr
uk
gr
Uk
gr
uk
Gula pasir
Oralit
KCL
air
15

1,2
300 cc
1,5 sdm
1,5 bks
sdm
1,5 gls
25

2
500 cc
2,5 sdm
2,5 bks
½ sdm
2,5 gls
37,5

3
750 cc
3,5 sdm
3,5 bks
¾ sdm
3 ¾ gls


G.      CARA MEMBUAT RESOMAL
Campurkan Gula pasir, oralit, KCL, dan diencerkan dengan air hangat sesuai kebutuhan larutan sesuai tabel sambil diaduk sampai homogeny. Larutan ini bias langsung diminum.
Dalam pembuatan formula, bila larutan elektrolit tersebut tidak tersedia, 20 ml larutan elektrolit bias didapat dari 2 gram KCL atau sumber buah dan sayuran antara lain :
-          Sari Buah Tomat (400 cc)                         :     200 cc untuk pengganti 1 gr KCL
-          Sari Buah Jeruk (500 cc)                           :     250 cc untuk pengganti 1 gr KCL
-          Sari Buah Pisang (250 cc)                         :     125 cc untuk pengganti 1 gr KCL
-          Sari Buah Alpukat (200 cc)                      :     100 cc untuk pengganti 1 gr KCL
-          Sari Buah Melon (450 cc)                         :     225 cc untuk pengganti 1 gr KCL
-          Sari Buah Belimbing ( 350 cc)                  :     175 cc untuk pengganti 1 gr KCL
-          Sari Bayam (350 cc)                                 :     175 cc untuk pengganti 1 gr KCL
-          Sari Daun Pepaya Muda (150 cc)             :     75 cc untuk pengganti 1 gr KCL
 
H.      CARA MEMBUAT MODISKO
1.         Campur tepung susu krim, gula. Minyak kelapa/margarine yang dicairkan dengan air secukupnya, kemudian campuran tersebut dibliender sampai homogeny. Tambahkan air sampai volume yang ditentukan, kemudian didiamkan selama 15 menit
2.         Campuran tepung susu krim, gula pasir dan air secukupnya tuangi minyak kelapa/margarine yang sudah dicairkan sedikit demi sedikit sambil diaduk dengan sendok. Dianjurkan waktu mengaduk agak ditekan sampai minyak kelapa/margarine homogen. Tambahkan air sedikit demi sedikit sampai volume yang ditentukan kemudian ditim selama 15 menit.


I.         CARA PEMBERIAN MODISKO
Modisko diberikan sebagai minuman atau  dicampurkan dengan makanan lain, misalnya: bubur susu modisco, pudding modisco, talam modisco, es dan lain-lain.


J.        CONTOH RESEP MODIFIKASI FORMULA
1.         Bubur sari formula
Bahan :
-       Tepung beras        : 25 gr (5 sendok makan )
-       Gula pasir : 10 gr ( 1 sendok makan )
-       Formula 75           : 100 cc
-       Santan kental       : 50 gr kelapa (5 sendok makan )
-       Air                                    : 200 cc (1 gelas)

Cara Membuat :
Campur tepung beras, gula pasir, dan air diaduk sampai matang, angkat langsung campur dengan larutan formula 75 kemudian diaduk sampai rata. Siap dihidangkan dengan santan kental
Nilai Gizi:
-       Energy      : 381,9 k kal
-       Protein      : 4,35 gr
-       Lemak      : 27,5 gr
-       Karbohidrat: 47,5 gr

2.         Puding agar-agar formula
Bahan:
-       Agar- agar = 3 setengah (stngah bungkus)
-       gula pasir  = 10 gr (2 sendok makan )
-       santan kelapa= 25 gr (2 setengah sendok makan)
-       air untuk santan =100 cc (setengah gelas)
-       F 100 =200 cc

Cara membuat:                                                                                               
Campur bahan agar-agar, gula, dan santan diaduk sampai mendidih. Setelah mendidih angkat dari api kemudian masukkan F100 dan diaduk rata. Masukkan kedalam cetakan yang telah disiapkan
Nilai gizi:
-       Energy      : 326,1 kkal
-       Protein      : 6,6 gr
-       Lemak      : 22,1 gr
-       Karbohidrat: 32,9 gr

CONTOH RESEP MODIFIKASI MODISCO
1.         Burjo modisco
Bahan:
-       Kacang hijau        : 25 gr
-       Gula pasir : 10 gr
-       Santan kental       : 100 gr kelapa
-       Gula merah           : 10 gr
-       Modisco setengah: 100 cc
-       Daun pandan dan garam secukupnya

Cara membuat: 
Masak kacang hijau setengah matang,buat  adonan air yaitu dengan santan dan modisco dicampur jadi satu rebus sampai mendidih sambil diaduk agar santan tidak pecah. Kemudian masukkan gula merah yang sudah dicairkan dan gula pasir serta kacang hijau , dan masak kembali hingga matang jangan lupa tambahkan daun pandan dan garam secukupnya.sajikan untuk 1 porsi.
Nilai gizi :
-       Energi       : 598,45kkal
-       Protein      : 12,55 grr
-       Lemak      : 37,0 gr
-       Karbohidrat: 59,53 gr

2.         Puntik mandalika modisco
Bahan:
-       Pisang       : 100 gr
-       Gula pasir: 10 gr
-       Telur         :25 gr
-       Santan kental       : 50 gr
-       Modisco III          : 100 cc

Cara membuat:
Pisang diambil dagingnya lalu dihaluskan, semua bahan dan modisco  III dicampur menjadi satu, dan kemudian dicetak menurut selera. Terakhir  dikukus sampai matang kurang lebih 30 menit.
Nilai gizi
-       Energi : 495,4 kkal
-       Protein: 9,3 gr
-       Lemak: 29,3 gr
-       Karbohidrat : 52,2 gr 

CONTOH RESEP MAKANAN BAYI
       SARI BUAH
1.         AIR JERUK
Bahan                        : jeruk 1 gram (1 buah).
Cara membuat           : jeruk dicuci bersih dan dipotong melintang lalu diperas     dan disaring. Air jeruk yang didapat 7 sendok makan.
Cara pemberian         : untuk pemberian pertama air jeruk tersebut diencerkan dengan air putih masak dengan perbandingan 1 : 1 dan diberikan sebanyak 1 sendok teh. Pemberian ini ditambah dari hari ke hari sampai dapat menghabiskan 1 buah jeruk, maka selanjutnya tidak perlu diencerkan lagi, bila rasanya asam, dapat ditambahkan gula dalam bentuk sirup secukupnya.
Nilai gizi:
-       Energy        : 45 kkal
-       Protein        : 0,9 gr
-       Lemak          : 0,2 gr
-       Karbohidrat : 11,2 gr
      
2.         Sari pisang
Bahan                        : pisang ambon 100 gr (1 buah).
Cara membuat           : pisang dicuci bersih, dikupas, dikerik halus, dan dimasukkan ke dalam cangkir. Pisang yang telah dikerik sebaiknya dicampur dengan air jeruk/air tomat.
Nilai gizi:
-       Energy      : 99 kkal
-       Protein      : 1,2 gr
-       Lemak      : 0,2 gr
-       Karbohidrat          : 25,8 gr

3.         Bubur susu
Bahan:
-       Susu                     : 150 cc
-       Gula pasir : 10 gr
-       Tepung beras        : 20 gr
-       Air putih               : 50 cc
-       Garam secukupnya
Cara membuat:
Didihkan susu, tepung beras diencerkan dengan air 50 cc dan dimasukkan ke dalam susu yang telah mendidih sampai masak. Kemudian masukkan gula pasir ke dalam bubur tersebut dan ditambahkan garam lalu diangkat.
Nilai gizi :
-       Energy      : 217 kkal
-       Protein      : 7 gr
-       Lemak      : 7 gr
-       Karbohidrat: 30 gr

4.         Nasi tim/bubur campur
Bahan :
-       Beras        : 20 gr
-       Ikan/daging/ hati : 25 gr
-       Tempe/ tahu : 10 gr
-       Sayur        : 25 gr
-       Air            : 800 cc
Cara membuat:
Bahan makanan dicuci. Ikan, hati, daging, tahu, tempe dipotong kecil/dicincang. Sayuran dipotong pendek. Semua bahan makanan dimasukkan ke dalam panic dan diberi air. Dimasak dengan api sedang  dan ditutup. Sesudah mendidih diaduk dan dimasak terus hingga kental dan matang.
Nilai gizi:
-       Energy      : 155 kkal
-       Protein      : 8 gr
-       Lemak      : 4 gr
-       Karbohidrat: 22 gr

Mengenali dan membantu masalah lain seperti defisiensi vitamin, anemia dan gagal jantung kongestif.
a.         Kekurangan vitamin A
Semua penderita gizi buruk harus mendapat vitamin A pada hari pertama perawatan dengan dosis tergantung dari umur anak.

b.        Kekurangan vitamin B komplek, C, D, E, K
Penderita gizi buruk sebaiknya mendapatkan multivitamin.

c.         Gagal jantung kongestif
Penderita gizi buruk biasanya mengalami atrofi pada otot jantung sehingga tidak mampu memompakan darah yang ada di jantung jika cairan tubuh melebihi kemampuannya. Tanda awal gagal jantung kongesif, yaitu: nafas cepat >50 kali per menit pada umur 2-12 bulan atau >40 kali per menit pada anak 12 bulan sampai 5 tahun, ujung jari tangan dan kaki dingin (sianosis).

 d.        Dermatosis
Anak kwarsiorkor disertai dengan kelainan pada kulit berupa bercak-bercak kemerahan/kehitaman pada pantat, kaki, leher belakang yang disebut sebagai dermatosis.

K.      PEMANTAUAN DAN EVALUASI
Pemantauan perawatan pada penderita gizi buruk sangat diperlukan karena kondisi tubuhnya sangat buruk. Manfaat pemantauan yang dilaksanakan oleh petugas kesehatan adalah untuk mengetahui:
1.    Berat ringannya keadaan penderita (tergantung fase perawatan).
2.    Jumlah penderita yang dikunjungi, jumlah tenaga kesehatan yang ada.
3.    Jarak atau kesulitan rumah penderita yang dikunjungi.
Frekuensi kontak antara petugas kesehatan dan penderita perlu dilakukan, sebagai berikut:
1.    Fase stabilisasi, setiap hari.
2.    Fase transisi, seminggu dua kali.
3.    Fase rehabilitasi, seminggu sekali selamasebulan (4-6 minggu).
4.    Fase follow up, 2 minggu sekali selama  bulan, 3 minggu sekali selama 3 bulan.
Dengan menjalankan pedoman – pedoman pemantauan tersebut anak telah menjalani pemulihan sekitar 6 bulan

Beberapa hal yang perlu dipantau, antara lain:
1.        Pemantauan suhu tubuh
Pada fase stabilisasi, pemantauan suhu tubuh adalah sangat penting karena resiko terjadinya hipotermi sangat tinggi. Sedangkan pada fase rehabilitasi sudah tidak penting lagi karena ancaman penderita mengalami hipotermi sudah semakin kecil. Cara pengukuran suhu tubuh seperti yang telah dikemukakan dibagian depan. Pengukuran suhu tubuh pada fase stabilisasi (apabila alatnya tersedia) sebaiknya dilakukan 2 jam sekali.


2.        Pemantauan perkembangan anak
Perkembangan anak dapat digunakan juga sebagai pertanda kemajuan penderita gizi buruk.  Jika anak sudah mulai dapat tersenyum merupakan pertanda yang baik. Setelah itu disusul dengan nafsu makan yang baik dan anak mulai bermain di tempat tidur, duduk dan seterusnya, mendekati perkembangan sebelumnya yang sudah dicapai.

3.        Pemantauan penerimaan (aksebtabilitas) makanan
Pemantauan asupan makanan dan minuman terhadap anak dilakukan dengan cara menghitung berapa banyak asupan, dan berapa banyak yang tidak habis atau dikelurkan lagi. Dengan demikian, sarana pemantauan adalah alat ukur volume, yang harus dilakukan secara terus menerus. Hasil pemantauan selanjutnya dimasukkan kedalam formulir ynag telah tersedia.
Dalam pemantauan sring terjadi masalah – masalah yang harus segera diselesaikan. Kadang masalah dapat diselesaikan sendiri oleh petugas kesehatan, tetapi sering juga masalah perlu diselesaikan dengan kerjasama lintas sektoral.
Beberapa masalah yang timbul dalam perawatan penderita antara lain :
o  Kenapa nafsu makan penderita tidak kunjung membaik
o  Anak masih menderita sakit (diare, muntah, batuk dll)
o  Keluarga tidak mampu membeli bahan makanan
o  Keluarga tidak dapat memberi makan tiap 2 jam
o  Anak menderita cacat bawaan
o  Kelurga tidak dapat menyediakan makanan seperti yang dianjurkan (bahan makanan tidak terbeli/terlalu mahal).
o  Tidak ada alat pemantauan.
o  Asuhan untuk anak kurang karena ibu sakit, sementara ayah harus bekerja untuk menghidupi keluarga.

4.        Pemantauan berat badan
Penderita gizi buruk yang disertai edema akan trjadi penularn berat badan terlebih dahul pada tahap awal perawatan, selanjutnya akan terjadi peningkatan berat badan yang bermakna. Peningkatan berat badan tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan formulir yang disediakan.


Peningkatan BB dapt dibedakan ebagai berikut :
·      Peningkatan BB kurang : < 5 gr/kgBB/hari
·      Peningkatan BB sedang : 5 – 10 gr/kgBB/hari
·      Peningkatan BB baik : > 10 gr/kgBB/hari
Pemantauan berat badan dapat dilakukan dengan menggunakan timbangan atau KMS.

 
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Gizi buruk merupakan masalah kekurangan zat gizi makro (kalori/protein) yang berlangsung secara kronis maupun akut. Cara melakukan diagnosis pada balita yang mengalami gizi buruk, yaitu dengan pemeriksaan antropometris dan pemeriksan klinis. Tanda-tada klinis dapat berupa marasmus, kwarshiorkor, serta marasmik-kwarshiorkor. Kriteria balita gizi buruk, yaitu: sudah melewati fase stabilisasi, tidak menderita komplikasi, tim penanggulangan gizi buruk, serta fasilitas rumah tangga yang memungkinkan.
Perawatan pasien gizi buruk dapat dilakukan dengan mengobati atau mencegah Hipoglikemi dan hipotermi, mencegah dehidrasi, mengobati infeksi, serta pemberian diet. Pemberian modisko sebagai minuman atau dicampurkan dengan makanan lain.
Pemantauan yang perlu dilakukan, yaitu pemantauan suhu tubuh, pemantauan perkembangan anak, pemantauan penerimaan makanan, pemantauan berat badan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar